Selasa, 04 November 2014

Sebelum dan Setelah Pelantikan Presiden Joko Widodo

  • Sebelum Pelantikan Presiden
Pada tanggal 14 Maret 2014 yang lalu, Megawati Sukarno Putri sebagai Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan) mengeluarkan Surat Perintah Harian yang ditujukan kepada Seluruh Rakyat Indonesia agar mendukung Bapak Joko Widodo sebagai Calon Presiden dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Liputan media massa yang luas hari itu tidak hanya memupuk kredibilitas Jum’at keramat bagi sebagian orang yang biasanya langsung ditahan KPK karena tersandung kasus korupsi, tetapi juga menjadi petir di siang bolong penuh dengan suara guntur yang menggoncangkan konstelasi perpolitikan menuju kursi RI 1.





Bagaimana tidak, Joko Widodo yang sejak berbulan-bulan silam, yang masih seusia jagung menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta dan tidak pernah menyatakan diri ingin menjadi presiden RI, oleh lembaga survey digadang-gadang menjadi kandidat Presiden RI dengan tanpa kejelasan pintu partai padanya tetapi dalam berbagai poling sudah menempati posisi teratas, jauh menungguli kandidat presiden yang lainnya yang telah lama mendeklarasikan diri dan menghambur milyaran rupiah demi pencitraan, aksetabilitas, dan elektabilitas. Kiranya hanya sosok yang sangat siap untuk berdarah-darah yang dapat menjadi pesaing Jokowi atas kondisi demikian.
Surat Megawati ditanggapi beragam tetapi tentu saja hangat. Ada pihak yang menganggapnya tidak akan mengganggu pencalonannya hingga merasa dirugikan atau lebih tepatnya dikhianati. Apa yang sebenarnya terjadi, bagaimana bisa Megawati sebagai sosok negarawan mengambil sikap yang oleh kalangan terbatas dianggap sebagai langkah yang tidak elok dalam dunia politik?
Rahasianya terletak pada 09 April 2014. Pada saat itu rakyat dipastikan akan mendatangi bilik suara dan memberikan pilihannya pada caleg dengan seperangkat konsekuensi kepada partai yang nantinya akan mengusung calon presiden. PDI Perjuangan saat ini memiliki sosok yang sedang dieluk-elukan dan digadang-gadang menggantikan SBY sebagai pemimpin negara. Sosok itu memiliki pribadi yang sangat sederhana dan tanpa sempat diperhitungkan sebagai magnet yang kuat, dengannya popularitas menjadi semakin melejit terlebih kepada partai yang membesarkannya.
Maka kesia-siaanlah jika PDI Perjuangan tidak memanfaatkan momen ini, apalagi jika langsung mendukung Prabowo sebagai Calon Presiden, bisa jadi rakyat akan antipati kepada PDI Perjuangan dan berdampak pada signifikansi penurunan suara PDI Perjuangan sementara itu menjadi salah satu modal penting dalam Pilpres. PDI Perjuangan harus mahir melihat situasi, yang dengannyalah ia menjual Jokowi dan rakyat diharapkan membelinya dengan memilih PDI Perjuangan pada Pileg ini.


Sementara Prabowo dengan momen kampanye dalam kurun waktu tiga minggu menggunakan “Batu Tulis” sebagai materi kampanye yang ia juga harapkan akan semakin meningkatkan popularitas partainya dan juga dirinya sebagai sosok yang terzalimi oleh Sisa Kekuasaan Orde Baru, Mantan Presiden Habibie, Kasus Penculikan Aktivis 1998, Golkar, dan juga oleh Megawati sendiri.




Dalam politik semuanya bisa saja terjadi, dan kehati-hatian akan lidah yang tak bertulang sepatutnya senantiasa dipelihata. Cerita boleh saja berubah nantinya manakala PDI Perjuangan mampu memberikan alasan yang dapat diterima oleh rakyat mengapa tiba-tiba beralih tidak jadi melanjutkan pencalonan Jokowi di Pilpres 2014.


  • Setelah Pelantikan Presiden

VIVAnews - Upacara pelantikan Presiden terpilih, Joko Widodo, rupanya tidak hanya dinanti oleh publik Indonesia, namun juga dunia internasional. Setidaknya, itu yang terlihat di empat media asing yang turut memberikan porsi pemberitaan pelantikan mantan Gubernur DKI Jakarta itu pada hari ini, Senin 20 Oktober 2014.  

Media asing yang dimaksud yakni kantor berita Australia, ABC News, stasiun berita Singapura, Channel News Asia, majalah ternama Amerika Serikat, Time dan kantor berita Inggris, BBC. Channel News Asia menyoroti prosesi upacara pelantikan Jokowi yang berlangsung di Gedung MPR pada pukul 10.00 WIB. 

Dalam tulisan berjudul "Joko Widodo Disumpah Sebagai Presiden Indonesia, media itu menggambarkan Jokowi masuk ke dalam gedung parlemen mengenakan jas hitam dan peci. Dia terlihat berdiri di samping mantan Presiden SBY, sebelum diambil sumpahnya. 

"Saya bersumpah bahwa saya akan memenuhi kewajiban saya sebagai Presiden Indonesia sebaik dan seadil-adilnya," ujar Jokowi mengucapkan janjinya di hadapan ratusan anggota parlemen dan tamu undangan kenegaraan lainnya. 

Untuk menjaga hikmatnya upacara pelantikan, polisi mengerahkan 24 ribu personil. Usai dilantik, Jokowi dan Jusuf Kalla dijelaskan diarak menggunakan kereta andong menuju ke Istana Negara. Di sana, dia telah dinanti SBY sebagai lambang peralihan kekuasaan kepada Jokowi. 

Selanjutnya, Jokowi akan melakukan upacara syukuran rakyat di Monas. Di sana, dia akan berpidato dan bergabung bersama ratusan ribu warga yang tidak sabar ingin melihatnya. 

Antusiasme warga yang begitu tinggi untuk melihat Jokowi usai dilantik disorot oleh ABC News. Dalam tulisan berjudul "Joko Widodo Dilantik Sebagai Presiden Baru Indonesia", mereka menyebut satu komentar dari warga yang rela datang jauh-jauh hanya untuk menyaksikan upacara pelantikan itu. 

"Saya tersentuh oleh pidato pelantikan Jokowi pagi tadi. Isinya begitu indah. Dia layak mendapat rasa hormat. Perayaan semacam ini belum pernah terjadi sebelumnya di masa lalu," ujar Rukasih. 

ABC News juga menyoroti Jokowi merupakan Presiden Indonesia pertama yang tidak berasal dari kalangan orang kaya yang kerap korup, petinggi partai politik, atau elit militer. 
           
Sementara itu, BBC News melalui tulisannya berjudul yang hampir sama yakni "Joko Widodo Disumpah Sebagai Presiden Baru Indonesia", lebih memfokuskan kepada kehadiran rivalnya saat Pemilu Presiden lalu, Prabowo Subianto ketika upacara pelantikan. Begitu memasuki ruang sidang, Prabowo disambut dengan tepuk tangan meriah. Kehadiran mantan Danjen Kopasus itu secara otomatis mengakhiri spekulasi bahwa dia tidak akan ikut menyaksikan Jokowi dilantik. 

Pada pekan lalu, Jokowi menyambangi Prabowo di kediamannya. Dalam kunjungan itu, Jokowi mengucapkan selamat ulang tahun kepada Prabowo. Langkah tersebut, tulis BBC, dilihat oleh banyak pengamat sebagai sebuah tanda yang positif. 





    Sumber : 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar